Proyek Dokumentasi Gondang Batak

Musik Tradisional 2 Comments »

Didasari oleh semangat untuk melestarikan hasil karya leluhur bangso Batak dalam bidang seni musik, dalam hal ini Gondang Batak. Maka kami ingin mengajak teman-teman pencinta musik tradisional untuk berpartisipasi dan memberikan dukungannya dalam proyek non-laba pendokumentasian Gondang batak. Banyak repertoar Gondang batak yang mulai hilang satu-per satu, sebelum kekayaan intelek leluhur kita itu hilang maka saatnya untuk kita bersama untuk mengantisipasinya melalui proyek ini.

Latar Belakang
Tanah Batak dulunya dihuni masyarakat berbudaya dengan tatanan kemasyarakatan yang harmonis adil dan damai. Diayomi pemimpin yang karismatik, adil dan jujur.

Mereka mewariskan kepada keturunannya kearifan, seni budaya dan sastra yang bernilai tinggi, seperti aksara, tenunan, tortor dan gondang. Namun,perkembangan jaman telah mempengaruhi terkikisnya nilai seni budaya batak yang berharga itu.

Gondang batak, salah satu karya seni musik batak yang sangat kaya dan menjadi kekaguman bagi dunia. Repertoarnya yang beragam memenuhi segala kebutuhan seni yang digunakan untuk beragam kegiatan seperti pada upacara keagamaan, adat dan hiburan.

Erosi Gondang Batak
Modernisasi telah menggempur sendi kebesaran Gondang Batak. Kita hanya bisa melihat alat kesenian itu dimainkan dengan versi modern, repertoar gondang batak yang asli sudah jarang dimunculkan.

Pargonsi, pemain gondang batak muda tidak lagi mementingkan penguasaan ragam gondang batak, karena pada umumnya masyarakat batak lebih menginginkan irama modern seperti nyanyian bahkan dangdut. Seniman tua gondang batak saat ini di toba pun sudah jarang memunculkan ragam gondang batak itu karena ketidakmampuan masyarakat mengenalinya.

Penggalian dan Dokumentasi
Seniman gondang batak saat ini tinggal sedikit yang mampu mengenali dan memainkan gondang batak itu dengan baik dan benar. Mereka sudah tua dan sebagian sudah digerogoti penyakit. Kehilangan mereka akan menjadi langkah sejarah terkuburnya ragam seni gondang batak. Memanfaatkan peluang saat ini sebaliknya akan menjadi momen sejarah penyelamatan karya seni gondang batak itu dan menjadi acuan pembelajaran pada generasi mendatang.

Penggalian kembali dan pendokumentasian adalah langkah pertama penyelamatan asset budaya batak yang sangat berharga itu. Untuk selanjutnya akan disusun tutorial memainkan gondang itu.

Kegiatan
Tahap I : Dokumentasi
1. Melakukan pendataan nama-nama gondang batak bersama pargonsi tua batak toba
2. Melakukan penggalian dan penyelarasan gondang itu bersama sesama pargonsi tua yang berpengalaman.
3. Melakukan recording dan mastering
4. Melakukan publikasi, untuk lebih mencintai gondang batak.

Tahap II : Pembuatan Video Tutorial bermain musik batak.

Sumberdaya
1. Recording.
Rekaman gondang dilakukan sendiri dengan kemampuan sendiri dan dengan peralatan yang dimiliki sendiri dan peralatan tambahan pendukung proses recording. Alat yang tersedia adalah Handy Recording ZOOM H4 streo 4 track.

2. Pargonsi
Pargonsi tua yang masih dapat memainkan gondang batak dengan baik seperti; Maringan Sitorus, Barani Gultom, Maningar Sitorus dan Sobo Gultom.

3. Support
Didukung oleh putra-putri batak dari perantauan yang komit dan cinta kesenian dan budaya batak.

Waktu:
Pelaksanaan program dari bulan Juni s/d Sesember 2008

Pengelola Kegiatan:
Penanggungjawab : Monang Naipospos.
Didukung oleh :
Petrus Marulak Sitohang.
Rianthy Sianturi.
Sahat Nainggolan.
Charlie Sianipar.
Suhunan Situmorang.
Viky Sianipar.

Sumber Dana :
Donasi/sumbangan dan dukungan semua pihak.

Kegiatan Yang sudah berjalan :
1. Telah melakukan recording awal untuk 20 gondang. Pada umumnya gondang yang langka dan jarang diperdengarkan.
2. Membuat narasi sebagian gondang dalam bahasa Indonesia.

Untuk teman-teman yang berniat membantu Proyek Dokumentasi ini dapat menghubungi kontak diatas, dukungan teman-teman sangat diharapkan untuk ambil bagian dalam pelestarian seni musik Batak. Mauliate!.

Gondang

Musik Tradisional 2 Comments »

Cerman Simamora, seorang etmusikolog lulusan Universitas Sumatera Utara, dan kini menjadi pengajar di Institut Kesenian Jakarta, pada 26 Januari 2008 lalu menyelenggarakan sebuah acara yang terbilang langka: Gondang Naposo, di Gelanggang Remaja Rawamangun, Jakarta Timur. Gondang Naposo adalah sebuah tradisi gondang Batak-Toba yang diikuti kaum muda.

”Sambutannya luar biasa. Lima ribu orang, pria dan wanita muda datang, ikut bernyanyi dan menari,” kata pemusik gondang yang menguasai instrumen taganing, gitar, dan hasapi ini sumringah, seraya memutarkan rekaman acara tersebut melalui laptop-nya agar ikut ditonton oleh Jurnal Nasional. ”Terbayar semua jerih payah, meski harus menggadaikan mobil,” katanya.

Sambil menonton, saya pun terpukau oleh hasil kerja keras Cerman yang menyiapkan acara tersebut selama berbulan-bulan, sekaligus prihatin, karena acara kesenian non-kemersial itu, harus ”ditalangi” Cerman.

”Beberapa orang kaya yang seharusnya mampu berbuat, tidak memberikan respons ketika saya kontak. Yang mengejutkan, perhatian justru datang dari orang-orang Batak muda. Mereka bekerja di perusahaan asing dan kemungkinan besar ‘jauh‘ dari kebudayaan Batak. Tapi, mereka begitu percaya, dan langsung mentransfer bantuannya,” jelas Cerman yang beberapa kali sudah mengikuti rombongan pertunjukan gondang Batak ke Swiss, Austria, Belanda, Jerman.

Selengkapnya »

Batak ’sacred’ music comes out of the closet

Musik Tradisional No Comments »

JAKARTA (JP): To North Sumatra’s Toba Batak community, their traditional orchestra does not perform at just any time. It is usually reserved for funeral rites or a rite marking the occasion where bones or graves are moved.

This orchestra, called gondang sabangunan, is a sacred one, unlike uning-uningan, which is mundanely entertaining.

However, the sacred nature of the orchestra seemed to have been forgottenduring the Festival of Batak music held at the Beautiful Indonesia in Miniature Park (TMII) two weeks ago. Both gondang sabangunan and uning-uningan music were featured at the festival, which attracted considerable attention from the audience, among whom were domestic and foreign tourists visiting the park.

When performing gondang sabangunan, the musical group plays numerous instruments, namely flutes, hasapi (similar to a ukelele, but with two strings), taganing, a small drum covered with leather at each end, marimba-like garantung, sarunai bolon (a big wooden trumpet) and ogung (gong) of a variety of sizes. While uning-uningan group generally only use flute, tambourine and kulintang (wooden percussions)

Selengkapnya »

No Batak wedding is complete without a band!

Lain-lain No Comments »

JAKARTA (JP): The Batak people in Jakarta, especially the Toba Bataks, often highlight their wedding parties with traditional music commonly knownas uning-uningan. At least five people make up an uning-uningan group. All their instruments are made of wood: flutes, the marimba-like garantung, the taganing, a small drum covered with leather at each end, and kulintang, which is a percussion instrument.

In Jakarta there are at least 18 uning-uningan groups which regularly perform at Batak weddings and New Year’s parties. Each group may perform asoften as twice or three times a week. Turman Sinaga, the music coordinator for the Martha Ulos Group, said his group sometimes performed as often as 20 times a month. The owner of the group, Martha Sirait, includes a traditional Batak music performance in theBatak wedding package he offers.
On average, a Batak music group can earn between Rp 500,000 and Rp 700,000 for one performance. So each member of the group may take home between Rp 100,000 and Rp 150,000 each time the group performs.

As the members of these Batak traditional music groups can make a handsome living, about 70 percent of them make playing this music their sole source of income. The other 30 percent of them may have side jobs suchas working as bus conductors or selling cigarettes at bus stations.

Selengkapnya »

Dari Sekolah Gondang Laguboti

Musik Tradisional 11 Comments »

Beberapa etnomusikolog Universitas Sumatera Utara memprihatinkan ‘keberadaan‘ musik etnik yang semakin tersisih oleh perubahan zaman. Tidak ingin meratapinya, mereka justru bergerak dengan pekerjaan besar: mengupayakan pelestarian. Dimulai dari sebuah desa kecil, Hutatinggi, Laguboti, Kabupaten Tobasa. Irwansyah Harahap, salah seorang ‘pejuang‘ kesenian itu, melalui surat elektroniknya, membagi pengalaman dan pandangannya kepada Jurnal Nasional, seperti berikut:

“Sekolah Gondang” di Laguboti merupakan satu bentuk pilot project dari “Program Revitalisasi Musik Tradisi” yang sedang kami (Rithaony Hutajulu dan saya sendiri) kerjakan, disamping tiga lokasi budaya musik tradisi lainnya di Sumatera Utara; Karo, Simalungun dan Pakpak. Pilihan rasional lokasi di Laguboti sebagai center kegiatan karena “tradisi gondang” yang menjadi subyek program revitalisasi berpusat di desa Hutatinggi, Laguboti Tobasa. Konteks aktivitas kegiatan “sekolah”nya sendiri (untuk lecture individual) tersebar di beberapa lokasi, seperti Laguboti, Porsea, dan Panamean.

Proyek kegiatan ini diawali dari pengalaman penelitian kami (sebagai etnomusikolog), khususnya di wilayah Sumatera Utara selama lebih kurang sepuluh tahun ke belakang, memperlihatkan bahwa kehidupan musik tradisi (termasuk Batak Toba) nyaris ditinggalkan. Oleh karena itu kami mengganggap, sangat penting untuk mengantisipasi keadaan ini.

Selengkapnya »

Musik Gondang Memerlukan Perhatian

Musik Tradisional 1 Comment »

Jika diibaratkan sebagai manusia, Viky Sianipar melihat musik gondang saat ini tengah bernegosiasi dengan malaikat maut di ruang ICU rumah sakit. Tubuhnya terbaring lemah, hidupnya bergantung dengan alat-alat. Musik gondang sekarat. Perlu perhatian serius!

Seperti nasib budaya tradisional lainnya, eksistensi musik gondang saat ini berada di ujung tanduk. Tak banyak yang perduli, bahkan orang Batak sendiri. “Orang batak sendiri sekarang nggak terlalu peduli dengan budayanya,” kata Pengajar Etnomusikologi IKJ Tarsan Simamora kepada Jurnal Nasional, Jumat (25/4).

Menengok ke belakang hampir punahnya musik gondang tak terlepas dari propaganda penjajah untuk memecah orang Batak. Musik gondang digunakan dalam upacara agama untuk menyampaikan doa manusia ke dunia atas. Ketika musik dimainkan, pemain sarune dan pemain taganing dianggap sebagai menifestasi Batara Guru. “Musik gondang dipergunakan untuk berkomunikasi dengan dunia atas dan rupanya tranformasi pemain musik ini terjadi untuk memudahkan hubungan dengan dunia atas,” tutur Viky.

Selengkapnya »

Lirik: Putus Sikkola

Lirik Lagu 1 Comment »

Putus Sikkola

I.
Unang marsak ho,
Amang sinuan tunas,
Lammu suda gogo au,
Putus sikkola ho..hasian nalagu

II.
Laho maho amang,
Marjalang tu nadao,
Bah laho maho tondikku,
Borhat ma damang, tu luat naleban

Reff:
Tangiangki ma amang,
Na mandonganni ho di luat nadao,
Anggiat horas ho,
Dapotho niluluanmu amang,  (2x)

III.
Molo tung nasahat ho, amang
Tu na sinitasita ni roham,
Tongos surat paboa baritam,
Laho paposhon rohakki amang,

Back to Reff.

Lirik: Poda Ni Dainang

Lirik Lagu No Comments »

Poda Ni Dainang

Marsinggang ho inang,
Di lage podomanki,
Manangiangkon manangiangkon,
Manangiangkon hami gellengmon,

Sai dimemehon ho,
Angka na denggani,
Na gabe sulu gabe sulu,
Gabe sulu dingolu nami ,

Reff:
Sabar do ho inang paanju-anju,
Hami gellengmon,
Sian na menek, sian na menek sian na menek,
Sahat rodi magodang,

Ai gabe sulu podami,
Diparngolu-ngoluon ki,
Anggiat dapot au inang,
Songon burjum parsondukki,

Lirik: Parsirangan

Lirik Lagu 1 Comment »

Parsirangan

Di endeku ho hutonahon
Bohimi sai hot di rohangki
Tung so boi be ho huhalupahon
Sai jotjot ho ro tu nipiki

Rap na jolo hita sian huta
Tolu ari tolu borngin ndang ni hilala
Martata huhut martolha tolha
Laos disi do tubu holong ni roha

Jumpang ma ujung ni pardalanan
Tangis ahu ito di ari parsirangan
Tung gomos tangan mi marsijalangan
Sude na i tahe ndang tarlupahon
Reff:

Di endeku ho hutonahon
Bohimi sai hot di rohangki
Tung so boi be ho huhalupahon
Sai jotjot ho ro tu nipiki

Tu dia ho luluanhu
Tolu taon sai tarpaima ahu
Sai andigan ma hita pajumpang
Naeng pajumpang pasombu siholhi